Senin, 29 April 2013
Cry me a River
Malam ini
adalah malam terakhir menuju ujian nasional, sedari pagi minggu tadi aku
menghabiskan waktuku dengan membaca begitu banyak soal, dimulai dari kimia yang
membuat kepala ku botak. Lalu melangkah ke bahasa Indonesia yang harus dikuasai
semalam karna besok kami akan menghadapi ujian itu, kau tau? Ini seperti
menguncang perutmu dan membuat isi perutmu keluar semua. Tapi aku dan
teman-teman sekarang sama sekali tidak punya pilihan, meskipun terlambat tapi
kurasa lebih baik daripada tidak sama sekali, kami harus banyak belajar kalau
memang ingin lulus.
Tidak banyak yang aku lakukan
hari ini selain membaca buku dan duduk di depan meja kecil dari kayu ku dengan
buku berserakan diantara ku, buku dengan judul-judul seperti “sukses UN 2013”
atau “ jurus jitu lulus UN 2013”, kuharap itu benar akan terjadi.
Ini sudah jam setengah
Sembilan malam ketika aku berhenti belajar, menyingkirkan buku-buku itu dari
hadapanku –karna ini mulai memualkan dan aku terlalu pusing untuk terus
melanjutkannya- jadi kuputuskan untuk sedikit beristirahat sembari melemaskan
otot-otot ku yang kaku.
Aku menatap langit-langit
ruangan tengah rumahku, tidak ada apa-apa selain seng dingin dan kayu yang
menahannya, aku asyik sendiri dengan lagu yang berputar ditelingaku, adik-adik
dan mama ku yang juga ada di sini terlihat seperti film bisu, tak terdengar
suara apapun, tidak ada selain laguku.
Aku mengingat cerita semalam,
saat ucuk dan aku berbicara bersama, sepulang dari yasinan bersama di rumah
bunda yanti, sepanjang jalan itu berbicara tentang sesuatu yang menganjal
akhir-akhir ini.
Kami berdua mengendarai motor
masing-masing, jalanan sepi karna ini sudah terlalu larut untuk keluar, -di
bangko, jam 9 malam ke atas adalah jam malam sehingga hanya segelintir orang
yang berkeliaran di jalanan diatas jam itu- jadi hanya aku dan dia,
sesungguhnya aku takut mengatakan hal yang salah
Jalanan ini lenggang dan laju
roda motor kami terasa terlalu lambat, tapi sesuatu di dalam hatiku menahanku
beranjak pergi meninggalkannya, seperti “jangan pergi” atau “temani dia dulu”
yang jelas aku tidak bisa pergi saat itu, aku tak menyangka dia berbicara dan
mengikuti alunan roda motor ku, kami berbicara cukup banyak sampai itu
menyentuh hal yang seharusnya tidak lagi kami bahas.
“aku yang
salah…” katanya pelan
“kamu memang
salah..” balasku
“yah.. aku
tau..”
Ada
pertentangan di dalam diriku, sebagiannya merasa kasihan dan iba, sebagiannya
merasa seperti kau acuhkan saja dia
“kamu yakin mau
dilupain?” tanyaku
“itu sih
terserah kamu…”
Gaya itu lagi..
gaya sok tenang mu itu yang tidak aku mengerti, kemarin kamu menatapku dengan
tatapan aneh seakan ada banyak hal yang ingin kamu ucapkan ke aku, kemarin lagi
kamu menatapku dengan tatapan penuh makna yang aku tidak mengerti, sekarang
dengan cara itu lagi, aku sama sekali tidak paham, sebenarnya apa yang kamu
fikirkan?
“semuanya itu
terserah kamu lho..” bodohnya aku mengatakan itu seakan aku mengharapkan dia
kembali.
“kok terserah
aku..?”
“yah terserh
kamu donk, aku sih nurutin maunya kamu aja, “
“kok gitu?
semuanya kan terserah diri masing-masing…”
“tapi setiap
orang tetap punya kesempatan ke dua…” sial ! aku tidak tau apa yang harus
kukatakan
“eh lihat ada
bintang lho..” dia menunjuk langit, membawa pandanganku ke langit yang gelap,
aneh sekali, padahal sedari tadi tidak ada satupun bintang yang Nampak, hujan
dan hujan lah yang datang malam itu, tapi sekarang tiba-tiba sebuah bintang
bersinar memecahkan kegelapan malam itu.
“aku hanya
takut hal yang sama terulang kedua kali…” katanya
Aku tersenyum, kata-kata yang
persis sama pernah ucuk ucapkan juga kepadaku, di hari sebelum kami memulai hal
ini, hanya saja di saat dan keadaan yang berbeda.
“mungkin ada
baiknya kita begini saja..”
“temenan aja
maksudnya?” tanyaku
“yah…. Takutnya
aku mengulangi hal yang sama lagi ..”
Aku mulai muak
dengan ini, yah tentu kamu menakutkan hal ini, karna kamu selalu melihat aku
pada hal yang tidak aku miliki, segala perbandingan yang kamu buat, tentang aku
dan orang lain, kamu fikir aku dengan mudahnya melupakan apa yang pernah kamu
katakana? Bahwa kamu sama sekali tidak bahagia bersamaku, bahwa kesepian itu
selalu menghantui kamu bahkan meskipun aku disisimu, tidak. Tidak sama sekali
“aku sebenarnya
hanya mau kamu melihat aku sebagai sara, karna aku dengan orang lain tidak akan
pernah sama…”jawabku pelan “ aku hanya mengenal 2 hal, bisa atau tidak bisa…”
suaraku meninggi
“aku ragu sar,
“
“kalau ragu ya
sudah berarti beginilah keadaannya…”
“itu pemaksaan
sar… aku perlu waktu, “
“mungkin memang
lebih baik kita begini saja..”
“apa itu dari
fikiran kamu atau dari hati kamu?” tanyanya
“gak tau lah,
bingung…”
“ya udah, nanti
aja difikirin, nanti malah terganggu proses belajar kamu…”
Dan sampai malam itu
berakhir, meskipun dia bilang tidak usah difikirkan tapi tetap saja, didalam
hatiku aku masih memikirkannya, terus terus sampai sekarang, karna aku tidak
tau apa yang harus aku lakukan lagi. Sebagian diriku berkata bahwa ini sudah
berakhir, jadi lepaskanlah. Tapi aku juga menyadari bahwa rasa itu masih
tersisa, hanya saja kurasakan tidak lagi sekuat dulu. Aku yang dulu pernah
mengalami ini merasa ini tidak akan mungkin lagi, sesuatu seperti kehilangan
harapan dan cinta itu sendiri.
Bagaimanapun dia adalah orang
yang sama dengan yang menyakiti dan menghancurkan harapan itu sendiri, sekarang
kenapa kembali dan memberikan air kehidupan kepada harapan yang mati? Aku
merasa ragu apakah aku bisa melanjutkan ini lagi atau tidak. Mencintai tidak
pernah sesakit ini sebelumnya, meraasa seperti apa yang aku lakukan dan segala
usahaku sia-sia, seperti aku tidak bisa dan gagal menjadi sosok yang diharapkan
olehnya, merasakan ini membuatku tidak enak hati dan merasa buruk, tapi aku
lagi-lagi memikirkan bagaimana perasaannya, apakah dia terluka atau tidak,
untuk orang yang dulu pernah mencampakkanku dan sama sekali tidak mau
memperdulikan aku, begitu ironi.
Bagaimana dia menghargai apa
yang telah dilalui dan perasaan ku, bagaimana dia bisa lupa bagaimana dia
melenyapkan segalanya seakan itu sama sekali tidak ada harganya, katakan lah
padaku bagaimana bisa? Sekarang apa lagi? Berfikir apa lagi?
Aku memang tidak begitu yakin
tentang apa yang aku rasakan tentang ini tapi aku tau satu hal bahwa aku masih
mengingatnya, kata-katamu dan cacianmu. Bagaimana aku bisa menemukan jalan
untuk kembali, kamu mematikan bintang yang kamu letakkan sendiri dan aku lumpuh
untuk merasakan lagi.
Ada yang salah dengan ku,
harusnya aku tidak seperti ini, harusnya aku ada di dekatmu sekarang,
menghiburmu, menyemangati mu, mengurusmu, “lihatlah betapa berantakannya kamu
akhir-akhir ini, kamu juga lupa pangkas rambut, apa kamu sudah makan? Kamu
terlihat lebih kurus.” Harusnya itu yang kukatakan, harusnya sekarang aku
memegang hp itu dan menghubungimu, menanyakan apakah kamu sudah makan atau
belum, atau bertanya apakah kamu sudah sholat? Tapi tidak ada yang
menggerakkanku untuk itu, aku seperti kehilangan niat untuk melakukannya.
Kamu bahkan tidak mau tau
tentang keadaan aku, kamu yang begitu begitu saja, kamu yang bahkan tidak mau
menghubungiku dan mengatakan sesuatu untuk menyemangatiku, lihatlah bagaimana
orang ini berusaha membuatku merasa nyaman, bagaimana dia menyemangatiku
meskipun tiada balas dariku, sedangkan kamu, yang sama sekali tidak punya usaha
untuk bersama ku, adakah alasan bagiku berfikir ulang?
Kalau bisa mengembalikan waktu
kembalikanlah padaku… sekarang kamu baru bilang bahwa kamu kesepian, sekarang
baru menangis untukku, sekarang baru mulai memikirkan aku, kenapa tiba-tiba?
Sekarang baru menyadari bahwa
apa yang kamu lakukan adalah salah, sekarang baru mulai memikirkan ulang, kamu
takut bahwa hal yang sama akan terulang lagi dan kamu takut menyakitiku lagi,
tapi pernahkah kamu berfikir kamu sudah melakukannya.
Malam ini diiringi alunan
lagu sendu dari Julie London “cry me a river”, aku menyudahi fikiranku tentang
ini dan mulai belajar lagi…
“……you drove
me…
Nearly drove me
out of my head
While you never
shed a tear…
Remember…. I
remember all that you said
And now you say
you love me
Well just to
prove you do
Come on and cry
me a river
Cry me a river
I cry a river
over you…..”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar