Senin, 29 April 2013

Sepenggal Cinta Dalam Recycle bin


hari itu aku bersih-bersih laptop, menghapus hal-hal yang kira-kira menyembunyikan “kutu-kutu” di dalam laptop satu-satunya yang aku punya ini, sejak ucuk bilang bahwa aku harus melupakannya, aku tau bahwa aku harus dan tidak ada jalan untuk memperbaiki itu semua.
                 Ucuk memprogram ku seperti aku adalah sebuah computer, lihat betapa mudahnya kita membuat sebuah data, menginstal program, memasukkan foto-foto kenangan kita kedalam benda berlayar tipis ini dan membuat seolah itu sangat berharga, namun suatu waktu ketika itu tidak diperlukan lagi dan hanya terasa memenuhi memori, kita menghapusnya begitu saja.
                 Apa dia berfikir bahwa aku adalah sebuah computer? Yang bisa dengan mudahnya dia mengisiku dengan kenangan dan manyuruhku menghapus semuanya, aku katakan pada kalian, it will never be so easy as you say, but I know I must
                 Aku melihat satu persatu memori itu dalam laptopku, foto-foto yang lucu ketika ucuk tersenyum dan tertawa di sampingku, mengulang lagi ingatan hari yang lalu disaat dia masih orang yang penting bagiku, foto itu, foto ucuk yang tersenyum itu, entah kenapa terlihat tidak seindah keadaannya, padahal dia begitu manis kalau tersenyum, senyum yang memabukkanku waktu itu, dulu terasa begitu indah, kenangan, memori itu. Tapi hari ini kursor ku terletak tepat di atas tombol delete, yah, selamat tinggal kenangan.
                 Ada begitu banyak yang harus dihapus hari ini, tak kusangka ternyata laptop ku sudah penuh akan pekerjaan-pekerjaan setengah hati ku yang tak kunjung selesai, juga tugas sekolah yang dulu mati-matian kucari sampai titik darah penghabisan –duileee -_-‘ – yang kali ini kayaknya beberapa harus kuhapus.
                 Ada perasaan aneh ketika aku harus menghapus semua cerita-cerita ini, seperti perasaan janggal dan sedih, beberapa adalah perasaan yang tidak kukenali yang mungkin karna aku akan kehilangan beberapa hal yang membuat hatiku bolong, yah, hatiku bolong sekarang.
                 Mungkin kehidupan manusia itu seperti ini, mengingat dan melupakan, seperti kita mengumpulkan pecahan-pecahan kenangan itu dan lalu membuangnya ketika tidak diperlukan lagi, tapi bukankah kenangan itu dibuat agar kita belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi? Supaya bisa belajar dari pengalaman, meskipun itu menyakitkan sekalipun tapi manusia tanpa kenangan pastilah bagai malam tampa bintang
                 Aku tahu seharusnya aku tidak bertanya hari itu, tidak kembali menanyakan apakah kita masih bisa melanjutkan hubungan ini atau tidak, karna sepertinya ucuk juga tidak punya usaha, tidak punya keinginan untuk berubah, begitu-begitu saja, masih tidak menganggap aku ada, masih memikirkan orang lain, harusnya aku mengikuti kata hati dan mimpiku yang mengatakan bahwa ini tidak mungkin, tidak akan bisa lagi, atau dia hanya akan melukai kamu lagi, tapi aku mungkin terlalu bodoh untuk menyadari bahwa ucuk mungkin bukan orang yang terbaik yang bisa kumiliki. J
                 Kalau aku adalah sebuah computer pasti aku ini computer yang rusak, meskipun disakiti oleh virus-virus yang menyembunyikan data ku, mengacaukan program ku, tapi aku masih bisa mengerti apa yang diperintahkan, masih berfikiran positif dan tidak bisa membenci, malah melakukan apa yang pemilikku perintahkan.
                 Patah hati itu menyakitkan bagiku, selalu saja begini, selalu menangis, tapi ini kali kedua bagiku menangis karena cinta, karna baru saat SMA inilah aku baru mengerti arti sayang sebenarnya dalam lingkup remaja, karna itu masa SMA ini adlah masa terbaik yang aku punya, ini adalah memori terbaik yang aku buat, ini adalah hal yang sangat berharga bagiku.
                 Aku mengalami banyak hal semasa putih abu-abu ini, aku jadi mengerti kenapa orang bilang bahwa SMA adalah era terbaik dari era apapun yang kamu punya selama hidup, disini aku menulis banyak cerita tentang persahabatan dan cinta, merekam terlalu banyak canda dan tawa, juga tangis dan sedu sedan, terlalu banyak gambar yang tercetak, terlalu banyak, terlalu indah untuk dilupakan begitu saja.
                 Tapi semua kenangan itu juga ternyata tidak harus di ingat berlarut-larut, aku menyadari sepenuhnya bahwa ketika sebuah hubungan berakhir dan kita terpisah, maka itulah akhir, setidak nya begitu yang aku rasakan. Jadi kali ini akan tidak ada lagi “good bye “ untuk ketiga kalinya.
                 Aku tau memang lebih baik kita berteman saja, aku dan ucuk berteman saja, karna terlalu menyakitkan untuk bersama, ucuk takut melukai ku dan aku masih takut terluka untuk kedua kali tapi kemarin aku begitu bodoh.
                 Pagi ini kulihat dia, sibuk dengan handphone sendiri, berbalas pesan nampaknya, aku tau bahwa ucuk  “punya yang lain”. Sepertinya terlalu focus dengan  itu, tidak mungkin jika lawannya adalah seorang anak laki-laki, aku mengerti cepat atau lambat dia akan punya pengganti aku yang mungkin tidak pernah ada di hatinya.
                 Aku sedih, galau malahan, tapi aku mengerti juga, ucuk bisa membuang kenangan denganku begitu saja, bisa tertawa dan mengganti semuanya dengan yang baru, jadi kenapa denganku ? aku juga pasti bisa, lagian aku dengan dia juga memang sudah tidak cocok lagi, tidak bertemu lagi, memang sudah terpisah jauh dan tidak mungkin ada jalan kembali, jadi meski perih, aku merelakannya.
                 Mungkin dengan orang itu ucuk akan lebih bahagia, mungkin dengan orang itu dia tidak akan merasakan kesepian lagi, seperti yang kukatakan semalam kepadanya, mungkin dia bisa lebih tulus mencintai orang itu dari pada siapapun, aku mengerti. Aku selalu mengerti…. Aku selalu mengerti….
                 Aku memutar sebuah puisi yang kubuat untuknya dulu, yang harusnya kuberikan kepadanya ketika kami 4 bulan, tapi akhirnya puisi itu tidak pernah tersampaikan.
                 Kata-kata itu muncul perlahan-lahan dan menghilang dalam layar laptop ku, Kata-kata yang benar tulus berasal dalam hatiku, dan aku membuatnya dengan sepenuh hati, memikirkan perasaanku dan menuangkannya, lihat aku yang mencoba membuatnya bahagia, lihat aku yang mencoba terus berada disampingnya agar dia tidak terluka, semata-mata hanya karena aku tidak ingin melihatnya terluka, tidak ingin melihatnya sakit, tidak mau dia bersedih, tidak mau dia kesepian, yang ternyata menurutnya aku ini tidak bisa sama sekali membuatnya bahagia … sama sekali tidak
                 Aku menarik navas cukup panjang sebelum menghapus puisi ini, yang akhirnya dengan mengucapkan bismillah aku menghapus puisi itu juga. Tidak baik bagiku menyimpan hal ini terlalu lama, tidak akan ada baiknya juga seandainya aku melihatnya suatu hari nanti dan akhirnya membandingkan ucuk dengan orang baru yang kumiliki nanti, tidak akan baik untukku, untuk ucuk ataupun untuk seseorang itu, jadi kuputuskan hapus saja.
                 Jikalau nanti memang benar ada seseorang baru dalam diri ucuk, aku kira aku akan menunggu saat yang tepat, aku tidak mau terburu-buru lalu akhirnya melukai aku ataupun orang lain, aku tidak mau menyanyangi orang yang aku tidak yakin aku akan bahagia bersamanya, aku mau mencintai seseorang dengan tulus, murni karna aku menyayanginya, saat itu pasti tiba, saat dimana perasaan ini bersih dan mampu menerima cinta yang baru lagi, karna aku tau hidupku tidak pernah berhenti disini, hidup akan terus bergulir dan begitulah keadaannya, bahkan dengan atau tanpa ucuk dunia ku masih berputar, jadi aku tau aku pasti bisa J
                 Ini adalah memori tentang ucuk yang terakhir, sebuah diari tentang kisah ku dengan ucuk, masa-masa sebelum aku berpacaran dengannya, lengkap dengan tanggal dan waktu kejadian itu, masa-masa yang penuh kebahagiaan, sampai halaman terakhir tentang perpisahan dan kata-kata memilukan itu, untuk yang terakhir, aku ingin membacanya.
                 Lihatlah, aku masih menyimpan tanggal dan kata-kata ucuk ketika dia mengungkapkan perasaan nya padaku, dimulai dengan kata-kata “aku tau kamu menyukaiku dan kamu tau aku menyukaimu” dan diakhiri dengan sebuah kalimat sederhana namun penuh makna “kamu mau jadi pacar aku?” begitu manis sebenarnya untuk dihapus, hari itu 26 oktober 2012, pukul 13.00, jum’at siang sehabis sholat jum’at, hari raya idul adha, yah, aku mencatat semua nya sedetil apapun karna dulu itu begitu berharga bagiku , tapi sekarang rasanya aku tidak mampu lagi menyimpan ini lebih lama lagi.
                 Memori dan kenangan itu melayang difikiranku menunggu untuk ditinggalkan, aku sudah menyerah untuk mencoba dan ucuk sepertinya telah menemukan orang  yang baru, jadi lupakan saja, aku juga harus berjalan sekarang.
                 Aku menghapus diari itu, semua canda dan tawa yang terlukis didalamnya, semua keraguan dan tangis yang mewarnainya, semua rangkulan dan  genggaman yang terbuang ini pasti akan terbebas setelah aku melepaskannya, tidak ada ragu tidak ada sesal, aku sudah jadi lebih kuat sekarang. J
                 Mungkin hidup itu seperti computer, kita akan terus menerus menulis, merangkai cerita, menyimpan gambar dan video kisah kita bersama, menggulirkan dan mendengarkan nada-nada impian dan hati kita, sepanjang hidup di dunia ini, namun kita juga harus tau kenangan mana yang harus disimpan dan dipertahankan untuk melanjutkan hidup kita, dan aku juga sudah memilih untuk melupakan semuanya seperti yang dikatakan ucuk, sekali lagi kita memang lebih baik menjadi teman saja ketimbang melakukan sebuah hubungan serius seperti ini lagi. J
                 Suatu hari nanti aku akan menemukan orang yang lebih baik lagi, dan aku akan bahagia dengannya, aku tau itu
                 Untuk yang terakhir sebelum aku mengerjakan semua kewajibanku bekerja rodi –sori ma J- dirumah aku memeriksa recycle bin ku, karna disanalah semua kenangan itu terletak sementara sebelum akhirnya di lenyapkan selamanya.
                 Aku memeriksa satu persatu, semuanya ada disana, foto-foto itu, puisi itu, juga diari itu, kuteguhkan hati untuk menghapus selamanya meski ada perasaan sayang pada kenangan itu, tapi aku tau aku harus jika aku mau melangkah, supaya merelakan semua yang telah terjadi aku tau harus seperti ini, selamat tinggal ucuk, selamat tinggal kenangan, selamat tinggal harapan, hari ini aku harus mengakhiri semua ini, dengan satu perintah “delete all” dan keyakinan diri serta sebuah ucapan bismillah, semua nya lenyap tak berbekas, menjadi sebuah tempat sampah yang kosong lagi, putih bersih.
                 Aku memandang ke halaman putih didepanku, memikirkan tentang apa yang akan  aku lakukan dengan kertas kosong itu, lalu aku tersenyum. Aku menyadari tentang mimpi ku yang tertinggal selama aku melewatkannya berbulan-bulan ini, meski sendiri aku tau keadaannya, aku punya mimpi yang belum terselesaikan, salah satunya untuk menyelesaikan novel ini, yah novel ini akan jadi novel pertama ku yang diterbitkan menjadi sebuah buku. Aku pasti bisa ! Semangat !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fan Page!

Search

Fa�a Parte!

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate This...

tentang si Galau Move On